Membangun Toleransi Melalui Kuncup Melati

Bangunan berlantai tiga yang terletak di Jalan Gang Lombok No. 60 Semarang itu tak ubahnya seperti gedung sekolah pada umumnya. Deretan ruang kelas dan ruang-ruang lain dengan meja kursi serta berbagai sarana pendukung yang tertata rapi, guru-guru yang sedang mengajar para murid, juga para orangtua yang asyik ngobrol sambil menunggu anaknya pulang. Namun ketika masuk lebih dalam, kita akan dibuat tercengang. Sekolah ini membebaskan segala biaya untuk murid-muridnya alias gratis.

Melihat dari sejarahnya, sekolah yang didirikan sejak 1 Januari 1950 ini awalnya merupakan tempat kursus untuk pemberantasan buta huruf. Jumlah murid yang semakin berkembang menyebabkan tempat kursus ini berubah nama menjadi Taman Pendidikan Anak (TPA) Khong Kauw Hwee Semarang. Seiring berjalannya waktu, tempat pendidikan yang semula menggunakan sebagian ruangan di Kelenteng Tay Kak Sie di Jalan Gang Lombok ini berpindah lokasi dengan dibangunnya gedung baru yang lebih megah.

Tanggal 9 Oktober 1992, gedung berlantai tiga ini diresmikan penggunaannya oleh Walikota Semarang saat itu, Soetrisno Suharto dan diberi nama Sekolah Kuncup Melati. “Pak Walikota mengharapkan sekolah ini bisa seperti bunga melati yang akan mengharumkan bangsa,” tutur Agustin Indrawati Dharmawan, Kepala Sekolah SD Kuncup Melati.

Sejak semula, Sekolah Kuncup Melati yang memiliki jenjang pendidikan TK-SD-SMP dan berada di bawah Yayasan Khong Kauw Hwee, diperuntukkan untuk anak-anak yang kurang mampu dari segi ekonomi. Itulah mengapa di sekolah ini tidak ada biaya apapun yang harus dibayar oleh para murid.

Mereka justru memperoleh berbagai keperluan sekolah secara gratis seperti baju seragam, buku-buku, tas sekolah, sepatu, dan masih banyak lagi. Bahkan kadang, murid-murid juga mendapatkan bantuan sembako. Semua bisa terjadi karena keberadaan para donatur yang jumlahnya cukup banyak.

Meski serba gratis, tidak ada perbedaan dalam hal materi pelajaran bila dibandingkan dengan sekolah lain. “Kita berusaha mensejajarkan diri. Prinsip saya, kantong boleh kempes, boleh anaknya orang tidak punya, tapi kalau bisa isi kepala tidak seperti itu. Dan saya selalu memotivasi siswa, hari ini kamu jadi keset tidak apa-apa, besok keset itu dicuci bersih jadi topi. Kalau jadi topi kan dihormati. Kita tidak bisa merubah pola kehidupan lewat warisan materi. Warisannya ya, ilmu dari sekolah. Itu yang selalu saya tanamkan,” ucap Agustin yang telah mengajar di SD Kuncup Melati sejak 1 Juli 1980.

Setiap tahun, minat masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya di Sekolah Kuncup Melati cukup tinggi. Namun karena keterbatasan kuota, tidak semua bisa diterima. Hanya mereka yang lolos seleksi dan sungguh-sungguh dari keluarga tidak mampu yang dibuktikan dengan Surat Keterangan Tidak Mampu dari kelurahan. “Kalau SD biasanya saya utamakan dari anak TK sini. Begitu TK rapotan kenaikan, hari itu juga saya buka pendaftaran untuk SD. Kalau dari sini sudah penuh ya bagaimana lagi, sudah tidak terima dari luar, tetapi jika masih ada kekurangan, saya baru menerima pendaftaran dari luar,” kata Agustin.

Untuk saat ini jumlah murid SD sebanyak 153 orang. Satu tingkat satu kelas dengan jumlah antara 20-30 siswa. Sedangkan jumlah guru secara keseluruhan ada 33 orang.

Dari jumlah tersebut, terlihat adanya keberagaman latar belakang baik suku, agama, maupun ras. Kenyataan ini menjadi alasan mengapa Sekolah Kuncup Melati menjadi semacam percontohan bagi Dinas Jawa Tengah kaitannya dengan toleransi. “Mungkin orang lihat backgroundnya dengan nama yayasan seperti itu. Namun setelah masuk dan tahu dalamnya, guru-gurunya bagaimana, murid-muridnya bagaimana, orang baru bilang ooo..., karena di sini kita tidak melihat background warna kulit dan agama.

Yang penting kamu ke sini kalau sebagai murid, ya berarti kamu perlu bantuan dan kalau sebagai guru ya berarti kamu punya rasa kepedulian karena di sini tidak bisa memberikan janji di bidang kesejahteraan kantong dalam bentuk natura tetapi kalau kesejahteraan rohani kan tidak bisa dimiliki orang lain. Hanya diri sendiri yang bisa merasakan hal itu,” ungkap Agustin.

“Contoh saja, mungkin anak-anak sini sudah terbiasa dengan pejabat. Pak Walikota atau duta besar bahkan artis pernah berkunjung ke sini. Orang lain tidak bisa berjumpa semudah itu tapi saya bisa berkomunikasi dengan mereka tanpa kesulitan Ibaratnya, ketika saya sangat membutuhkan air ada orang yang memberi saya minum meskipun hanya sedikit. Saya suka tetapi orang itu lebih bahagia. Saya juga menanamkan kepada guru-guru, tidak semua orang diberi kesempatan oleh Tuhan untuk berbuat sesuatu. Nah, kita yang diberi kesempatan ini harus menggunakan itu dengan sebaik-baiknya,” tambahnya.

Walau telah berusaha sebaik-baiknya, kadang ada anak yang tidak bisa tuntas dalam pendidikan atau ada anak yang menjadi orang tidak sesuai harapan bangsa. Ini adalah duka yang dirasakan Agustin. “Makanya saya berusaha supaya anak-anak itu tetap sekolah. Kalau di koridor sekolah kan paling tidak saya memiliki wewenang untuk membina mereka, menjangkau mereka.

Harapan saya, anak-anak itu bisa selesai pendidikan dasarnya entah itu nanti terpakai atau tidak, paling tidak kowe wis taksangoni selembar ijasah sekolah dasar. Ya, seperti pak tani menanam padi. Benih sekian kuintal kan tidak semua nanti menghasilkan gabah. Mungkin di perjalanan gabah itu gabug, tidak tumbuh. Nah, kalau tidak tumbuh seperti itu saya hanya sebatas bisa prihatin, duh kok seperti itu ya?” kata Agustin.

Mengenai sekolah gratis, Agustin yang dulu waktu pertama kali sempat heran dengan adanya sekolah gratis ini berpendapat, semua bisa berjalan karena adanya dukungan dari berbagai pihak. “Waktu pemerintah mau memprogramkan adanya sekolah gratis, banyak orang datang ke sini. Saya terkesan dengan satu rombongan remaja dari Jakarta. Sederhana pemikirannya, bagus, dan mulia sebetulnya. Lima remaja ini punya modal untuk mendirikan sekolah gratis. Pemikirannya, kalau mereka punya uang, mendirikan sekolah gratis itu it’s ok, beres. Saya bilang tidak semudah itu. Itu kan baru hardware.

Kalau tidak didukung dengan software (guru) ya tidak berhasil. Kalau guru ngomong besok pagi anak-anak bawa uang beli buku tulis sama bu guru, apa itu gratis? Kalau mindshetnya guru mencari apa yang bisa dilakukan, apakah tujuan mulia itu bisa tercapai? Semua harus didukung dari segala sisi. Gambarannya seperti jari ini. Tuhan telah memberikan dari urat yang paling kecil hingga urat yang paling besar, juga tulang, sehingga jari bisa digerakkan. Nah, ini yang sulit. Mencari dan merekrut dari kepala sekolah hingga guru. Merekrutnya itu yang punya mindshet mendukung mindshet Anda.

Kalau tidak didukung dan hanya dari luarnya saja ya tidak akan klop. Kalau tidak sepenuh hati dari lubuk hati yang paling dalam akan sulit dan orang akan merasa tersiksa karena kumpul dengan keadaan yang semacam ini. Jadi, semua harus didukung dari segala segmen. Dari gurunya, yayasannya, dan dari masyarakat yang memberi dana,” papar Agustin panjang lebar.

Bagi Sekolah Kuncup Melati sendiri yang telah menyelenggarakan sekolah gratis selama puluhan tahun, masih ada beragam tantangan yang harus dihadapi. Tantangan itu misalnya, motivasi dari orangtua dan lingkungan keluarga yang tidak mendukung suasana belajar. Namun semua itu tidak menyurutkan semangat Agustin untuk selalu memberikan yang terbaik bagi anak-anak didiknya.

Sementara itu, terhadap toleransi, Agustin berusaha menanamkan kepada guru-guru dan anak-anak bahwa kita semua adalah Indonesia, tidak Jawa, tidak Cina, tidak Arab dan agamamu adalah agamamu, agamaku ya agamaku. “Di sini kita memakai baju seragam yang sama untuk membina anak-anak. Anak-anak di sini memakai baju seragam sebagai siswa Kuncup Melati. Jadi, tidak ditonjolkan kamu itu keturunan ini, agamanya ini, tapi kita berusaha bahwa kita Indonesia, sama-sama butuh belajar dan untuk gurunya sendiri butuh suatu kehidupan,” kata Agustin.

“Harapan saya sekolah ini tak lapuk dimakan jaman, sampai kapan pun, karena pemikiran saya, negara sekaya apapun pasti ada orang yang tidak mampu, ada orang yang tidak beruntung, walaupun itu hanya sekian persen. Nah, sekolah ini bisa menjadi jujugan bagi mereka. Dan saya juga berharap, anak-anak kelak di masyarakat bisa seperti ini tanpa membeda-bedakan. Kalau lingkungan nyaman, toleransi akan berjalan dengan enak,” pungkas Agustin.

BIODATA:
Nama : Agustin Indrawati Dharmawan
Tempat, tanggal lahir : Semarang, 25 Agustus 1960
Riwayat Pendidikan :
• SD Santa Maria I Malang, Jawa Timur tamat 1973
• SMP Katolik Hamong Putro Lasem, Jawa Tengah tamat 1976
• SPG St. Fransiskus Semarang, Jawa Tengah tamat 1980
• IKIP Negeri Semarang, Jawa Tengah Masuk Juli 1981, wisuda 31 Agustus 1985

Pengalaman Kerja :
• Mengajar di SD Kuncup Melati sejak 1 Juli 1980 sebagai guru kelas VI
• Selama menempuh pendidikan di IKIP Negeri Semarang tetap mengajar di SD Kuncup Melati
• Sejak 1 Juli 1989 mendapat tugas dari yayasan sebagai Kepala Sekolah SD Kuncup Melati sampai sekarang

Valentina - Berkat

Social Bookmark

FacebookTwitterDiggDeliciousStumbleuponGoogle BookmarksTechnoratiLinkedinRSS Feed

Online Users

We have 44 guests and no members online

Visitors Counter

0626740
Hari ini
Kemarin
44
323